Merayakan Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesiq yang ke-63 dengan Masyarakat Palmerston North
Artikel berita "One Night Journey in Indonesia" di koran Manawatu Standard
Hasil kerja keras selama hampir 4 bulan lebih akhirnya terwujud pada malam hari Sabtu, tanggal 6 September di Globe Theatre, Palmerston North. Dengan judul "One Night Journey in Indonesia", acara ini ditujukan untuk memperkenalkan budaya, flora dan fauna Indonesia kepada masyarakat Palmerston North sekaligus merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Disponsori oleh AsiaNZ Foundation dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), acara hasil kolaborasi antara anggota PPI Palmy dan masyarakat Indonesia di Palmy ini berlangsung dengan sukses.
Walaupun tahun ini merupakan tahun kedua PPI Palmy mengadakan perayaan kemerdekaan dengan mengundang tamu-tamu dari masyarakat Palmy, perayaan tahun ini sangat berbeda dengan sebelumnya karena adanya penggunaan tata suara, visual dan pencahayaan panggung. Acara ini juga diramaikan dengan kehadiran Mas Didik Nini Thowok yang datang dari Wellington untuk menarikan tarian transgendernya yang terkenal.
Suasana Indonesia dapat dirasakan oleh para undangan mulai dari pintu masuk dan di dalam ruang lobby. Selain memasang 2 payung tradisional di pintu depan, tim dekor juga memajang barang-barang produksi Indonesia dari bola bekel, peralatan membatik, kain batiknya sendiri, sampai peralatan berat seperti tameng, pedang, busur dan anak panahnya. Sayup-sayup terdengar pula iringan musik daerah yang membuat atmosphere ruang lobby Globe Theatre terasa seperti ruang penerimaan tamu perkawinan adat Jawa. Sebagian besar barang-barang yang ditampilkan merupakan milik pribadi masyarakat Indonesia yang berada di Palmy.
Para tamu selain mendapatkan souvenir berupa gantungan kunci sandal jepit batik, mereka dapat mencicipi jajanan tradisional yang disediakan oleh tim konsumsi, seperti semar mendem, kue wajik, dan kelepon. Disediakan pula minuman seperti wedang jahe, teh manis dan kopi.
Permainan lagu kebangsaan New Zealand dengan alat musik Indonesia, angklung
Tari Saman dari DI Aceh
Tari Sajojo dari Propinsi Papua
Acara dimulai dengan pidato pembukaan oleh wakil dari KBRI, Bpk. Tri Purnajaya, dan pembacaan naskah pidato dari AsiaNZ Foundation dan City Council oleh pembawa acara, Satya 'Ayu' Duhita. Lalu Lagu Indonesia Raya dimainkan dan tirai panggung pun dibuka. Telah siap di atas panggung, para pemain angklung berbaris dengan memakai baju daerah. Anak-anak kecil juga berbaris rapi dengan memakai baju daerah dan memegang angklung. Dengan menggunakan alat musik Indonesia ini, para anak memainkan tangga nada dan kemudian para dewasa memainkan lagu kebangsaan New Zealand 'God Defend New Zealand/ Aotearoa'. Di sela-sela suara angklung, terdengar suara para undangan ikut menyanyikan lagu tersebut. Setelah permainan angklung selesai, 'One Night Journey' secara resmi dimulai.
Sesuai dengan judul acara "One Night Journey in Indonesia", pertunjukkan disusun dengan mengikuti alur cerita rute perjalanan keliling Indonesia sepasang pengantin baru yang sedang menikmati masa bulan madu mereka. Pasangan suami-istri ini memulai perjalanannya dari daerah DI Aceh kemudian DKI Jakarta, Propinsi Jawa Tengah, P. Kalimantan, P. Sulawesi, Propinsi Papua dan akhirnya di P. Dewata. Di setiap daerah, dialog antara pasutri dengan pemandu wisata mereka digunakan untuk memperkenalkan budaya dan flora-fauna daerah tersebut. Adapula permainan wayang dan proses membatik untuk mewakili daerah Jawa Tengah dan juga tari-tarian seperti Tari Saman, Tari Yapong, Tari Sajojo dan, pada puncak acara, Tari Kecak.
Permainan Wayang oleh Dalang Erwin
Tarian khas Mas Didik Nini Thowok
Tarian khas Mas Didik Nini Thowok
Berakhirnya Tari Kecak menandakan tujuan akhir perjalanan pasutri tersebut. Untuk menutup acara, Amanda Chudori, Indah Mayasari dan Mariesca 'Chika' Oktaviani melantunkan Lagu Tanah Air ciptaan Ibu Soed dengan diiringi Cendra Perkasa pada piano dan Andre W. Maningkas pada saxophone. Setelah menyanyikan 2 bait lagu, Amanda membacakan sebuah puisi yang merupakan hasil terjemahan Lagu Tanah Air ke dalam Bahasa Inggris. Tidak sedikit penonton yang menitikkan air mata ketika mendengar puisi ini. Pada akhir puisi, semua pengisi acara, termasuk Mas Didik, telah memasukki panggungan dan bersama-sama menyanyikan kembali bait pertama lagu.
Salah satu dari para undangan berkomentar "Pertunjukkan yang sangat berkesan, penuh warna dan cita rasa, memberikan pemahaman akan budaya dan masyarakat Indonesia". "Saya sangat kagum melihat semua terlibat dalam acara ini, mulai dari anak-anak sampai dewasa. Permainan lagu kebangsaan New Zealand dengan menggunakan alat musik Indonesia merupakan sentuhan yang indah" pendapat salah satu undangan lainnya.
Tari Kecak dari Propinsi Bali
Lagu Tanah Air dinyanyikan oleh seluruh pengisi acara