Menjadi pelajar di luar negeri bukan berarti hanya belajar untuk mendapatkan nilai yang tinggi, banyak hal lain yang bisa menjadi pengalaman baru yang tak terlupakan. Para pelajar Indonesia di kota Palmerston North, New Zealand baru saja memukau penonton dengan Tari Saman Aceh di Festival Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota pada tanggal 21 Maret 2009. Festival ini juga diikuti oleh berbagai komunitas negara yang tinggal di Palmerston North seperti komunitas Malaysia, Philipina, India, Prancis, Belanda, Chili, Arab dan berbagai komunitas lainnya. Diperkirakan jumlah pengunjung yang datang sekitar 10ribu orang.
"Gerakan tarian dapat dipelajari dari YouTube" ujar Ayu Priyomarsono yang memberikan arahan gerakan tari Saman kepada penari lainnya. Total jumlah penari sebanyak 21 orang termasuk satu orang penyanyi oleh Amanda Cecilia dan penabuh genderang oleh Cendra Perkasa. Mengumpulkan 21 orang untuk berlatih tari bukanlah hal yang mudah. Masing-masing memiliki kesibukan yang berbeda-beda dan biasanya diwaktu luang para pelajar melakukan kerja tambahan. Tentunya dengan latihan menari mengorbankan penghasilan yang akan mereka dapatkan jika bekerja. Kendala lainnya adalah kebiasaan ngaret yang masih terbawa-bawa meskipun komitmen menari sudah terbentuk.
Satu bulan sebelum pentas dilakukan, latihan di intensifkan. Apabila ada salah satu penari yang melakukan kesalahan maka tarian akan dimulai dari awal. Taktik ini ternyata sangat jitu untuk membuat para penari semakin fokus pada tariannya. Hasillnya adalah adalah penampilan yang memukau penonton. Maro Potaka salah satu penonton yang berhasil diwawancari berkomentar "Saya sangat menyukai tarian ini, koordinasi gerakan yang dilakukan anak-anak muda ini secara bersama-sama mengagumkan". Selain itu, ketika tarian selesai dibawakan, beberapa penonton meminta foto bersama dengan para penari.
"Adanya kegiatan yang dilakukan oleh para pelajar sangat positif dan menjadi jembatan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada New Zealand" kata Bapak Amris Hassan, Duta Besar Indonesia untuk New Zealand yang menyempatkan diri untuk datang dan memberi dukungan bagi para pelajar yang tampil. Disamping itu juga pihak Kedutaan Indonesia juga turut meminjamkan kostum yang dipakai untuk menari.
Disamping tarian, para pelajar juga mendirikan stand yang menjual makanan khas Indonesia seperti Sate, Lumpia dan Bakwan. Karena kacang tanah yang digunakan sebagai bumbu sate mahal harganya, maka digunakanlah selai kacang yang diolah kembali agar rasanya sama bumbu sate di Indonesia. Kesemua makanan ini dimasak sendiri oleh para pelajar, bahkan beberapa penari turut masak seperti Erwin Ismu dan Aretha Atmadjaja. Memasakpun baru selesai dilakukan pada tengah malam sementara pagi-pagi buta harus ke berbenah-benah mengatur stand makanan.
Untuk menarik pembeli, sate baru dipanggang pada sesaat sebelum pembeli berdatangan agar supaya ketika dimakan sate tetap hangat. Begitu juga dengan lumpia dan bakwan. Adapun untuk untuk peralatan masak yang berupa panci, alat memanggang dan juga kompor di sewa untuk menghemat biaya. Tiap orang memiliki tugas masing-masing, ada yang bertugas untuk memanggang, menggoreng, sebagai kasir dan berdiri depan dengan pakaian tradisional Bali sembari mencoba untuk menarik pembeli.
Pendapatan dari berjualan makanan ini akan dimasukkan sebagai kas yang akan digunakan untuk mendanai kegiatan lainnya, misalnya pada mengunjungi beberapa obyek wisata yang biasanya dilakukan pada akhir tahun. Dengan dana kas ini dan juga bantuan dari pihak Kedutaan Indonesia, pada tahun lalu juga pelajar berhasil menyelenggarakan "One Night Journey in Indonesia (ONJI)" berkaitan dengan perayaan kemerdekaan Indonesia pada bulan September 2008 lalu.
ONJI memiliki format perjalanan sepasang turis yang dimulai Propinsi D.I. Aceh dan berakhir di Probinsi Bali. Tidak ketinggalan lagu Indonesia yang yang dikumandangkan di awal acara. Kemudian dilanjutkan dengan dengan lagu kebangsaan New Zealand, selanjutnya adalah tarian khas daerah dari masing-masing propinsi.
Setahun atau dua tahun yang lalu niat untuk keluar negeri adalah menuntut ilmu, namun sesampainya disini niat tersebut bertambah dengan sendirinya yaitu memperkenalkan Indonesia ke dunia Internasional. Niat baru yang jika dijalankan dengan tulus akan membuat hidup lebih bermakna dan sekaligus juga akhirnya akan mengharumkan nama Indonesia di dunia Internasional.